IndoHolic

Anak Indonesia itu bisa berkreasi dengan caranya sendiri...
 
IndeksPortalCalendarFAQPencarianAnggotaGroupPendaftaranLogin

Share | 
 

 Hitung Sedekahmu, Jangan Hitung Rezekimu

Topik sebelumnya Topik selanjutnya Go down 
PengirimMessage
gusrus
Co-Admin
Co-Admin


Jumlah posting : 193
Join date : 12.01.10

PostSubyek: Hitung Sedekahmu, Jangan Hitung Rezekimu   Wed Jan 20, 2010 12:35 am

Hitung berapa sedekahmu hari ini, dan jangan hitung berapa rejekimu hari ini. Moto seperti itu idealnya menjadi motivasi setiap orang, terlepas dari persoalan suku, warna kulit, maupun agama/keyakinan. Sebab berbuat baik –termasuk sedekah– telah direkomendasikan oleh ajaran agama/keyakinan apa pun, tanpa perlu melihat niatan atau motivasinya.

Sosok yang melakukan sedekah pada dasarnya adalah orang yang memiliki rejeki “lebih” daripada orang lain. Dengan memiliki perasaan demikian dan hati nurani (qalbu) yang mau berbagi dengan sesama, banyak yang meyakini akan menggerakkan potensi diri. Bila hari ini seseorang hanya mampu bersedekah satu rupiah, maka ia akan berusaha agar esok hari mampu bersedekah dua rupiah.

Karena impuls yang kuat agar mampu bersedekah lebih banyak dari hari kemarin, sudah pasti orang tersebut ingin bekerja lebih baik daripada hari ini. Jika ia seorang pegawai negeri yang gaji per bulan jumlahnya terukur, tentu mulai berpikir bekerja sambilan (baca: wiraswasta) bersama istri atau anak-anaknya. Berulangnya perbuatan seperti itu setiap hari, tentu akan menjadi kebiasaan hidup yang pada gilirannya berubah sebagai karakter atau watak. Bayangkan, seseorang memiliki watak suka bersedekah!

Maka, andai sepertiga saja dari seluruh warga bangsa ini memiliki watak demikian, Penulis meyakini di Republik ini sudah mulai sulit mencari orang/anak yang kekurangan gizi. Antar-tokoh agama beserta umatnya bersatu padu, bergerak menggalang sedekah dan mendistribusikannya kepada siapa saja yang berhak, tanpa diskriminasi yang berbasis sara. Lambat laun, kemiskinan teratasi, dan tentu saja kebodohan bakal tertangani pula.

Yang Halal

Oleh karena termotivasi niatan bersedekah, sebagai wujud iman yang dilahirkan dalam amal keshalehan, tentu orang bersedekah akan menyerahkan uang yang halal. Batiniahnya pasti memberontak bila rejeki yang akan diamalkannya itu adalah hasil pekerjaan/perbuatan tidak baik, atau perbuatan haram. Sorot mata orang yang mengenalnya, meski tak menuduhnya telah bersedekah dengan uang haram, seolah telah menuduh dirinya bersedekah dengan uang haram.

Dengan demikian, keberadaan watak bersedekah secara tak langsung akan mendidik individu untuk bertindak jujur sekaligus menyukai harta yang halal. Dan, bila seluruh kebutuhan hidup, termasuk makanan dan minuman yang disuguhkan dalam rumah tangga itu adalah rejeki halal, pasti perlindungan dan keberkahan Allah senantiasa menyelimutinya. Anak-anak mereka, insyaAllah, akan menjadi keturunan yang shaleh atau shalehah sekaligus bermanfaat bagi agama, keluarga, nusa dan bangsanya.

Mari galakkan bersedekah! Hitung berapa sedekahmu hari ini, dan jangan hitung berapa rejekimu hari ini. Mudah-mudahan korupsi dan perilaku bobrok lainnya di negeri tercinta ini bakal semakin terkikis habis. Semakin banyak orang yang berwatak suka bersedekah, Penulis yakin tidak akan menambah jumlah penduduk miskin, tapi sebaliknya justru bakal meningkatkan taraf kehidupan masyarakat. Sebab setiap orang semakin berusaha untuk mendapatkan rejeki halal lebih besar pada hari ini, agar dapat bersedekah lebih banyak esok hari.

Sedekah Senyummu

Lalu, bagaimana kalau hari ini aku tak mampu bersedekah? Salah satu nasihat Rasulullah Muhammad Saw: “Senyummu kepada saudaramu/sesamamu, adalah sedekahmu”. Jelaslah, andai Allah pada hari ini kita belum mencukupi untuk mampu bersedekah harta/uang, maka bersedekahlah dengan perbuatan atau perilaku yang baik antar-sesama. Dan, esok hari, bila belum berkemampuan pula, berperilakulah yang lebih baik daripada hari kemarin. Rejeki Allah itu diberikan kepada hambanya tanpa batas, dan datangnya pun tiada disangka-sangka.

Berarti, ketika Allah sudah berkenan mencukupi kita, saatnya kita bersedekah harta/uang beserta perilaku yang baik. Melakukan sedekah memang wajib diikuti tutur kata dan sikap yang baik. Sebab berapa pun besarannya sedekah, tidak memiliki kebaikan sama sekali tanpa disertai perkataan dan perilaku baik. Bahkan seseorang yang tak mampu berkata baik, lebih baik diam. Sehingga sering orang mengatakan, diam itu emas (jika untuk menghindari berkata buruk).

Mengapa lebih baik menghitung-hitung berapa sedekah kita daripada meng-account rejeki kita? Setidaknya ada 2 (dua) alasan. Pertama, sedekah itu adalah urusan atau bahkan kewajiban manusia yang beriman. Sebagai bagian dari tindak keshalehan, sedekah tetap hak manusia di hadapan Allah di akhirat kelak. Jasad fisik berupa daging tubuh ini, setelah mengalami kematian, menjadi hak ulat/belatung yang bakal menggerogotinya hingga tinggal tulang-belulang. Sedangkan ruh, pasca dijemput malaikat maut, menjadi hak atau dalam kuasa Allah kembali.

Kedua, rejeki sepenuhnya merupakan hak Allah. Seberapa hebat manusia mengais rejeki, dipastikan rejeki itu bakal hilang. Sekali lagi, Rasulullah Muhammad Saw menasihati: (Hakikat) rejeki manusia itu ada 3 (tiga). Pertama, apa yang kamu makan atau dipakai, lalu habis atau rusak karena tidak dapat dipakai lagi. Kedua, apa yang kamu sedekahnya, hingga menjadi tabunganmu di akhirat kelak, dan ketiga, yaitu sisanya –setelah dikurangi keduanya– kalau tidak hilang, tentu dimiliki orang lain (menjadi harta warisan) yang ditinggalkan.
Kembali Ke Atas Go down
Lihat profil user
 
Hitung Sedekahmu, Jangan Hitung Rezekimu
Topik sebelumnya Topik selanjutnya Kembali Ke Atas 
Halaman 1 dari 1
 Similar topics
-
» Asyiknya emang rame2, tapi wajib jangan ditiru...
» Tangki BBM jangan diisi sampai penuh
» share lagu barat (tapi jangan metal :D)
» Gimana caranya jdi orang yg serius??
» RENUNGAN-RENUNGAN

Permissions in this forum:Anda tidak dapat menjawab topik
IndoHolic :: THE LOUNGE-
Navigasi: